Dampak Pandemi Corona Terhadap Sektor Properti

Dampak Pandemi Corona Terhadap Sektor Properti

Jakarta, Bagos.id – Merebaknya pandemi virus Corona telah menyebabkan melemahnya berbagai sektor industri, tak terkecuali sektor properti.

Sebelum adanya pandemi Corona, bisa dikatakan sektor properti mulai menunjukkan tren yang positif setelah beberapa tahun belakangan mengalami stagnan.

Untuk menyikapi melemahnya pasar properti saat ini, pemerintah berupaya memberikan stimulus agar menciptakan keadaan pasar lebih baik.

Salah satu stimulus yang diberikan pemerintah adalah menambah kuota rumah subsidi dengan menyiapkan anggaran Rp1,5 triliun.

Penambahan subsidi ini akan direalisasikan pada April 2020 dengan mengaktifkan kembali program Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM).

Meskipun demikian dilaporkan oleh Bisnis yang menyebutkan bahwa pengembang properti menilai upaya pemerintah dalam menangani permasalahan yang dihadapi masih tidak cukup.

Penyaluran KPR Tersendat

Menurut Ketua Umum Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Endang Kawidjaja mengungkapkan, salah satu faktor yang menyebabkan tersendatnya penyaluran KPR ialah menurunnya pendapatan sejumlah calon debitur sehingga sulit mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan.

Terkait hal ini, pengembang meminta pemerintah dan perbankan untuk memberikan keringanan membayar cicilan dari pembeli ke perbankan.

Investor Menarik Diri

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Nasional (Apernas) Jaya Andre Bangsawan mengatakan banyak investor dalam negeri maupun asing yang mengundurkan diri dari sejumlah proyek properti di Indonesia akibat wabah Corona.

“Ada beberapa investor, terutama asing yang kabur, padahal sudah ada penandatanganan kerja sama. Ini kan kita yang susah, padahal proyeknya tinggal jalan,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (27/3/2020).

Menurutnya, sikap para investor itu disebabkan karena mereka memilih untuk menyelamatkan dananya di tengah ketidakpastian ekonomi.

Wakil Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia (REI) Bidang Hubungan Luar Negeri Rusmin Lawin juga mengatakan bahwa perginya investor bukan dalam bentuk pembatalan realisasi investasi, melainkan hanya penundaan. (arf)

Bagikan melalui